Siti Wahab lahir dan dibesarkan di Ternate, Maluku Utara. Ia adalah sosok ibu rumah tangga sederhana yang selalu mencari cara untuk membantu keluarga. Pada tahun 2010, kondisi ekonomi keluarga Siti sedang sulit. Suaminya hanya bekerja serabutan, dan penghasilan tidak tetap. Karena dorongan ingin membantu suami dan mendukung pendidikan anak-anaknya, Siti mulai mencoba membuat keripik singkong sendiri di dapur rumahnya.
Dengan modal Rp 200.000 yang dipinjam dari tetangga, Siti membeli singkong, minyak goreng, dan bumbu sederhana. Keripik yang ia hasilkan awalnya hanya dijual kepada tetangga sekitar. Meski sederhana, namun keripik buatannya mendapat sambutan positif karena garing, tidak terlalu berminyak, dan rasanya lezat. Dari sanalah muncul nama “Wahab Keripik”, sesuai nama keluarga yang diharapkan membawa keberuntungan.
Pada tahap awal, berbagai tantangan menghadang. Mulai dari minimnya modal, perlengkapan dapur yang terbatas, hingga masalah pemasaran. Siti Wahab sempat merasa ragu karena produk lokal biasanya kurang laku, dan persaingan dengan keripik kemasan pabrikan cukup ketat. Namun, ia tidak menyerah dan justru memanfaatkan kekuatan jaringan keluarga serta komunitas pengajian di lingkungan sekitar untuk memperkenalkan produknya.
Siti juga terus bereksperimen dengan resep. Ia mencoba berbagai bumbu lokal Maluku Utara, seperti bubuk cengkeh, cabe rawit lokal, bahkan menambahkan rasa sagu untuk kekhasan daerah. Resep inilah yang akhirnya membedakan Wahab Keripik dengan produk lain di pasaran.
Melihat respons baik dari masyarakat, Siti Wahab kemudian menambah varian keripik. Tidak hanya singkong, ia membuat keripik pisang, kentang, hingga keripik rumput laut, yang merupakan hasil laut khas Maluku Utara. Inovasi ini menarik perhatian banyak pihak, terutama wisatawan yang mencari oleh-oleh khas daerah saat berkunjung ke Ternate dan sekitarnya.
Melalui media sosial, Siti mulai memasarkan Wahab Keripik secara online. Ia belajar secara otodidak dari anaknya tentang penggunaan Facebook dan Instagram, serta memanfaatkan grup WhatsApp untuk memperluas jaringan penjualan. Inovasi pemasaran secara digital membantu Wahab Keripik dikenal hingga ke luar Maluku Utara.
Berkat permintaan yang terus meningkat, Siti Wahab memberanikan diri menambah karyawan dari tetangga yang membutuhkan pekerjaan. Ia mulai memproduksi keripik dalam volume lebih besar, bahkan akhirnya menyewa tempat produksi kecil di Ternate.
Pemerintah setempat mulai memperhatikan usaha Wahab Keripik dan memberi dukungan berupa pelatihan kewirausahaan, bantuan alat produksi, serta peluang mengikuti pameran UMKM tingkat provinsi dan nasional. Siti Wahab telah beberapa kali mewakili Maluku Utara pada ajang pameran kuliner, dan produknya menarik minat konsumen dari Pulau Jawa, Makassar, dan Papua.
Beberapa pencapaian Wahab Keripik yang patut diapresiasi antara lain:
Selain membangun bisnis keluarga, Siti sangat peduli terhadap lingkungan sekitar. Ia aktif membagikan pengalaman dan ilmu berwirausaha kepada ibu-ibu rumah tangga di komunitasnya, terutama mereka yang menganggur atau kehilangan pendapatan akibat pandemi.
Siti sering mengadakan pelatihan membuat keripik sederhana, mengajak tetangga membantu dalam produksi, dan memperkenalkan prinsip-prinsip usaha yang jujur serta inovatif. Ia selalu menekankan pentingnya kualitas produk, kebersihan proses produksi, serta pemasaran kreatif.
Beberapa dampak positif pemberdayaan masyarakat melalui Wahab Keripik:
Siti Wahab tidak mau ketinggalan zaman. Ia terus belajar tentang pengemasan modern, pemasaran digital, dan meningkatkan kualitas dengan inovasi. Wahab Keripik kini menggunakan kemasan bermerek, lengkap dengan logo, label nutrisi, dan barcode agar terkesan profesional. Selain media sosial, Siti telah memanfaatkan marketplace untuk menjual keripik secara nasional.
Siti memahami pentingnya review pelanggan dan testimoni. Setiap pembeli yang memberikan ulasan positif akan mendapat diskon atau hadiah. Hal ini memperkuat kepercayaan dan loyalitas pelanggan.
Keberhasilan Siti Wahab tidak terlepas dari prinsip dasar yang ia pegang, yaitu:
Kisah Siti Wahab menunjukkan, peluang usaha lokal bisa berkembang asal ada kemauan, kreativitas, dan semangat belajar. UMKM seperti Wahab Keripik membuktikan bahwa produk Nusantara dapat bersaing di pasar nasional jika dikelola dengan baik.
Siti Wahab berharap semakin banyak ibu rumah tangga di Maluku Utara yang berani memulai usaha dan berkolaborasi. Ia selalu menekankan bahwa sukses bukan hanya soal materi, tetapi tentang bagaimana membantu keluarga dan lingkungan sekitar agar bersama-sama bangkit.
Kedepannya, Siti Wahab bermimpi Wahab Keripik menjadi oleh-oleh kebanggaan Maluku Utara dan hadir di seluruh Indonesia. Ia berencana memperluas varian produk, menambah distribusi ke berbagai kota, serta membuka pelatihan wirausaha secara rutin.
Bantuan dari pemerintah dan dukungan masyarakat membuat langkah Siti Wahab semakin yakin. Ia menekankan pentingnya mendukung produk UMKM lokal dan mendorong generasi muda untuk berkontribusi dalam pengembangan ekonomi daerah.
Kisah Siti Wahab dan Wahab Keripik memberi contoh nyata bahwa keberhasilan wirausaha bukan hanya milik mereka yang bermodal besar, tetapi juga mereka yang gigih, jujur, dan mau berinovasi. Kegigihan Siti Wahab telah membuka peluang bagi banyak orang di Ternate, memperkenalkan keripik khas Maluku Utara ke tingkat nasional, dan membawa inspirasi bagi UMKM lainnya.
Semoga kisah ini memotivasi dan menginspirasi masyarakat luas, khususnya di Maluku Utara, untuk terus bersemangat dalam berwirausaha dan memberdayakan lingkungan sekitar demi masa depan yang lebih baik.