Maluku Utara terkenal tidak hanya karena panoramanya yang eksotis, tapi juga warisan budaya dan kreatifitas masyarakatnya. Salah satu cerita inspiratif datang dari pasangan pelaku usaha kreatif, Ramli Fitriani dan Fitriani, yang mengubah kerajinan tangan tradisional menjadi produk mendunia. Perjalanan mereka menjadi bukti ketekunan, inovasi, dan cinta terhadap budaya Nusantara.
Ramli Fitriani, pria kelahiran Ternate, dan Fitriani, perempuan asal Halmahera, tumbuh di lingkungan keluarga sederhana yang sejak kecil akrab dengan kerajinan lokal. Orang tua mereka adalah pengrajin anyaman daun, perhiasan berbahan dasar cangkang kerang, dan pernak-pernik khas Maluku Utara. Setelah menyelesaikan pendidikan, keduanya memutuskan melanjutkan jejak orang tua dengan tekad memberikan sentuhan modern pada kerajinan tradisional daerah mereka.
Tantangan besar dirasakan pada awal membangun usaha. Produk kerajinan Maluku Utara dianggap kuno, hanya cocok dijual di pasar lokal tradisional. Namun Ramli dan Fitriani percaya, keunikan warisan leluhur bisa menarik minat generasi muda jika dikemas sesuai selera masa kini.
Dengan modal sederhana, mereka mulai bereksperimen membuat aksesoris seperti kalung, gelang, bros, dan dompet dari bahan-bahan lokal seperti batok kelapa, kulit kerang, dan serat alam. Kreativitas mereka menjadikan setiap produk tampil estetik namun tetap berciri khas Maluku Utara.
Tidak mudah membawa produk buatan tangan asal Maluku Utara dikenal luas. Ramli dan Fitriani pun melakukan sejumlah strategi:
Setelah empat tahun berjalan, usaha yang diberi nama Fitriani Craft Malut berhasil mendapatkan banyak pelanggan dari berbagai kota di Indonesia, bahkan pernah menembus pasar Singapura dan Malaysia. Produk mereka menjadi suvenir resmi kegiatan-kegiatan besar di Ternate dan Halmahera, serta sering dipesan untuk cendera mata lembaga pemerintahan dan perusahaan swasta.
Fitriani Craft Malut juga meraih sejumlah penghargaan, antara lain:
Ramli dan Fitriani tidak hanya fokus pada keuntungan bisnis, mereka juga aktif memberikan pelatihan gratis kepada ibu-ibu rumah tangga dan anak muda di lingkungan sekitar. Pelatihan ini meliputi teknik menganyam, merangkai perhiasan, hingga pemasaran digital.
Berkat usaha mereka, lebih dari 40 perempuan kini mandiri secara ekonomi, mampu membantu perekonomian keluarga, dan mendapatkan kepercayaan diri untuk terus berkarya. Program pelatihan itu turut didukung oleh pemerintah daerah dan beberapa lembaga swadaya masyarakat.
Kisah mereka menjadi inspirasi bagi banyak pelaku usaha kreatif daerah lain. Berikut beberapa kunci sukses menurut Ramli dan Fitriani:
Ramli dan Fitriani bercita-cita membangun workshop dan galeri kerajinan yang lebih besar sekaligus ruang pelatihan yang dapat diakses semua lapisan masyarakat. Mereka berharap kerajinan tangan Maluku Utara semakin dikenal, tidak hanya sebagai produk suvenir, namun ikon budaya kreatif yang membanggakan Indonesia di mata dunia.
“Jika kita mencintai produk sendiri dan terus berinovasi, tak ada alasan usaha kerajinan lokal tak bisa bersaing di pasar nasional maupun internasional,” kata Ramli menutup cerita inspiratifnya.
Kisah pasangan ini membuktikan bahwa dengan niat, kreativitas, dan kearifan lokal, kerajinan tangan sederhana bisa menjadi alat perubahan hidup dan sumber kebanggaan daerah.