Dewi Latif lahir dan besar di Ternate, Maluku Utara. Ia menyaksikan sendiri keunikan budaya serta kekayaan alam Maluku, termasuk motif-motif khas yang sangat berpotensi diangkat ke tekstil. Namun, batik dari Maluku Utara belum banyak dikenal di luar daerah. Dewi merasakan dorongan untuk mengenalkan batik Maluku sebagai identitas dan kekayaan budaya, sehingga pada tahun 2014 ia merintis bisnis Latif Batik.
Bermodal keterampilan menggambar dan rasa cinta pada seni, Dewi memulai dengan melukis motif-motif lokal di atas kain. Beberapa motif utama adalah cengkeh, pala, bunga kenanga, dan motif ombak khas Maluku. Ia memberdayakan pengrajin lokal dan membuka pelatihan, berkolaborasi dengan komunitas, serta gencar mempromosikan batik kepada masyarakat Maluku Utara.
Awal perjalanan Latif Batik bukan tanpa hambatan. Dewi Latif menghadapi keterbatasan modal, akses bahan baku, serta belum adanya tenaga ahli batik tulis di Maluku Utara. Selain itu, masyarakat lokal awalnya masih sedikit mengenal batik sebagai busana sehari-hari.
Dewi tekun mendidik komunitas pengrajin binaannya, bahkan memberi pelatihan langsung mengenai teknik pembuatan batik tulis dan cap. Ia pun aktif mengikuti bazar dan festival, bahkan sempat menawarkan batik buatan tangan ke pasar-pasar tradisional di Ternate demi mengenalkan produk Latif Batik.
Konsistensi dan kerja kerasnya berbuah hasil: Dewi mendapat respons positif dan mulai menerima pesanan dari instansi pemerintah, sekolah, dan masyarakat luas.
Latif Batik menonjolkan motif-motif yang sangat erat dengan identitas Maluku Utara, seperti cengkeh dan pala yang merupakan komoditas utama daerah. Motif-motif ini dikombinasikan dengan teknik pewarnaan alami menggunakan bahan lokal seperti kulit manggis, daun ketapang, dan kulit kayu.
Dewi Latif juga mengadaptasi desain modern agar batik Maluku Utara dapat diterima dari generasi muda hingga dewasa. Ia menghadirkan busana batik berupa dress, outer, kemeja, bahkan kerudung, sehingga batik bisa dipakai pada berbagai acara formal maupun informal.
Di balik suksesnya Latif Batik, terdapat semangat pemberdayaan perempuan dan pengrajin lokal. Dewi Latif percaya bahwa bisnis batik bukan hanya soal keuntungan, tetapi juga upaya melestarikan budaya dan memberikan peluang bagi perempuan di Maluku Utara untuk mandiri secara ekonomi.
Dewi membentuk komunitas pembatik perempuan. Mereka diberikan pelatihan, pendampingan, dan akses pemasaran. Kelompok ini tumbuh menjadi salah satu pengrajin batik tulis terbesar di Maluku Utara, yang berkontribusi pada pengurangan pengangguran serta peningkatan pendapatan rumah tangga. Para pengrajin merasa bangga bisa mengenalkan budaya Maluku melalui batik hasil karya mereka.
Berkat komitmen dan inovasi kontinuitas, Latif Batik berhasil menembus berbagai event fashion dalam negeri, seperti Pekan Batik Nusantara, Festival Budaya Maluku Utara, dan Expo Batik Indonesia. Produk Latif Batik mulai dikenal di Jakarta, Surabaya, hingga internasional, dimana batik Maluku Utara mendapat apresiasi atas motifnya yang khas dan kualitasnya yang sangat baik.
Pada 2018, Dewi Latif menerima penghargaan dari Pemerintah Provinsi Maluku Utara sebagai Pelestari Batik Daerah. Ia juga menjadi narasumber di beberapa seminar UMKM, serta dipercaya untuk melatih batik tulis bagi pelajar dan perempuan di desa-desa. Latif Batik sendiri telah mendapatkan sertifikasi Hak Kekayaan Intelektual untuk motif-motif khasnya.
Dewi Latif tidak berhenti berinovasi. Ia memanfaatkan platform digital, seperti Instagram dan marketplace, untuk memasarkan batik Maluku Utara. Melalui foto dan video, Dewi menampilkan keindahan motif dan proses pembuatan batik tulis yang menggugah minat. Tak hanya di Indonesia, Latif Batik kini dikirim ke Singapore, Malaysia, dan Jepang, atas permintaan diaspora dan kolektor batik.
Pelanggan Latif Batik selalu memberikan ulasan positif. Selain motif yang unik, kualitas kain dan teknik pewarnaan alami membuat batik tahan lama dan nyaman dikenakan di daerah tropis. Banyak pelanggan yang mengenakan batik Latif Batik sebagai cendera mata, seragam kantor, hingga pakaian pesta.
Kisah Dewi Latif dan Latif Batik menjadi sumber inspirasi bagi generasi muda Maluku Utara agar percaya diri menghadirkan karya lokal yang bernilai. Ia menekankan pentingnya menjaga budaya leluhur, berani berinovasi, dan memanfaatkan peluang yang ada. Dewi juga sering memberikan motivasi kepada pelajar dan UMKM agar tidak mudah menyerah menghadapi tantangan.
Melalui Latif Batik, Dewi Latif membuktikan bahwa warisan budaya Maluku Utara bisa bersaing secara nasional dan internasional, sembari memberdayakan perempuan dan pengrajin lokal. Kini, Dewi merancang cita-cita selanjutnya: membangun rumah batik sebagai pusat edukasi dan promosi batik Maluku untuk generasi masa depan.
Kisah Dewi Latif dan Latif Batik adalah bukti bahwa ketekunan, kecintaan pada budaya, dan semangat pemberdayaan bisa menghasilkan keberhasilan yang luar biasa. Batik Maluku Utara kini bukan hanya produk tekstil, tetapi telah menjadi identitas dan kebanggaan daerah yang mendunia lewat tangan Dewi Latif. Semoga perjalanan ini menjadi inspirasi bagi banyak perempuan, pengrajin, dan generasi muda Indonesia untuk terus berkarya dan melestarikan kekayaan budaya nusantara.