Dewi Basri, seorang ibu rumah tangga asal Kota Ternate, Maluku Utara, memulai perjalanan bisnisnya pada pertengahan tahun 2015. Dengan modal sederhana dan semangat yang kuat, Dewi mencoba peruntungan di bidang batik. Saat itu, batik belum begitu dikenal di Maluku Utara, sehingga Dewi merasa perlu menghadirkan batik dengan motif dan corak lokal khas Maluku Utara agar masyarakat semakin mengenal seni batik yang memiliki sentuhan daerah mereka.
Inspirasi Dewi datang dari kekayaan budaya serta alam Maluku Utara, seperti motif burung endemik, pala, cengkih, dan laut yang menjadi ciri khas daerahnya. Keinginan untuk mengangkat identitas lokal melalui batik mendorong Dewi untuk membangun "Basri Batik". Nama ini diambil dari gabungan namanya dan suaminya, serta sebagai harapan agar usaha keluarga ini dapat berkembang dan memberi manfaat tidak hanya bagi keluarga, tetapi masyarakat sekitar.
Dewi memulai dari nol, belajar teknik membatik secara otodidak lewat internet dan pelatihan singkat yang diadakan pemerintah daerah. Dengan dukungan suaminya, Basri, mereka bersama-sama mempraktikkan pembuatan batik tulis dan cap di rumah. Tantangan terbesar saat itu adalah terbatasnya bahan pewarna dan kain serta kurangnya minat masyarakat terhadap batik.
Untuk mengatasi tantangan, Dewi melakukan riset motif, mencoba berbagai teknik pewarnaan alam seperti menggunakan kulit kayu, buah pala, dan rempah-rempah khas Maluku Utara. Selain itu, Dewi mulai aktif mengikuti pameran lokal dan memperkenalkan batiknya melalui media sosial. Lambat laun, minat masyarakat mulai tumbuh karena motif Basri Batik yang unik dan benar-benar menggambarkan identitas Maluku Utara.
Setelah melewati masa-masa sulit, Dewi dan Basri berhasil meningkatkan kualitas batik mereka. Mereka merekrut beberapa ibu rumah tangga di sekitar rumah untuk membantu proses pembuatan batik, sehingga Basri Batik menjadi usaha pemberdayaan masyarakat. Pelatihan rutin dilakukan agar karyawan dapat memahami teknik batik tulis, cap, dan kombinasi motif, serta menjaga kualitas produk.
Basri Batik mulai dikenal di kalangan masyarakat, instansi pemerintahan, hingga dijadikan seragam sekolah dan kantor di Ternate. Dewi juga mulai berani memasarkan produk ke luar daerah seperti Manado, Ambon, dan Jakarta. Berkat keberanian dan kerja keras, Basri Batik mendapatkan penghargaan dari pemerintah Maluku Utara sebagai usaha batik dengan inovasi motif terbaik tahun 2017.
Motif Basri Batik selalu mengangkat unsur lokal, seperti motif lalaty (burung endemik Maluku Utara), motif pala dan cengkih, motif laut dengan flora dan fauna bawah laut, serta motif budaya Ternate dan Tidore yang berupa tulisan Arab Melayu. Dewi Basri percaya bahwa motif lokal akan memudahkan masyarakat untuk mengenali batik Maluku Utara dan akan meningkatkan rasa cinta terhadap daerah sendiri.
Selain itu, Dewi tidak hanya memproduksi kain batik, tetapi juga membuat produk turunan seperti baju batik pria dan wanita, tas, dompet, dan sepatu dengan motif batik Maluku Utara. Inovasi produk ini membuat Basri Batik semakin diminati, terutama oleh wisatawan yang berkunjung ke Ternate maupun masyarakat lokal yang ingin tampil dengan identitas Maluku Utara.
Dewi Basri tidak hanya fokus pada keuntungan bisnis, tetapi juga pada pemberdayaan masyarakat sekitar. Dengan merekrut puluhan ibu rumah tangga sebagai pembatik dan memberikan pelatihan, Basri Batik berhasil meningkatkan perekonomian keluarga di lingkungan sekitar. Para ibu memperoleh pendapatan mandiri tanpa harus meninggalkan kewajiban utama sebagai ibu rumah tangga.
Dewi juga aktif mendampingi pelatihan kewirausahaan untuk pemuda lokal, mengajak mereka belajar membatik dan membangun usaha bersama. Ia percaya bahwa perkembangan industri kreatif di Maluku Utara akan membuka peluang kerja dan menciptakan generasi muda berdaya saing.
Saat pandemi Covid-19 melanda, Dewi tidak menyerah dan justru melihat peluang lewat pemasaran online. Ia membangun website dan toko online, serta memanfaatkan platform media sosial untuk memasarkan batiknya. Selain itu, Dewi aktif mengikuti marketplace nasional yang memungkinkan batik Basri dijangkau konsumen dari seluruh Indonesia.
Berkat strategi digital marketing, produk Basri Batik semakin dikenal hingga ke luar negeri, seperti Malaysia dan Singapura. Dewi sering menerima pesanan khusus, terutama motif batik yang memadukan unsur Maluku Utara dengan motif klasik batik Indonesia seperti parang dan kawung.
Selama perjalanan, Dewi Basri telah meraih berbagai penghargaan, di antaranya:
Kisah Dewi Basri membuktikan bahwa kegigihan, kreativitas, dan semangat melestarikan budaya lokal dapat membawa dampak besar bagi lingkungan dan masyarakat. Basri Batik kini menjadi salah satu ikon batik di Maluku Utara, sekaligus inspirasi bagi generasi muda untuk membangun usaha berbasis potensi lokal.
Dewi juga kerap diundang untuk berbicara di acara seminar dan pelatihan, membagikan ilmu dan pengalamannya dalam membangun usaha batik. Ia terus mengajak pemuda daerah untuk tidak ragu bermimpi besar, karena usaha kecil yang ditekuni dengan sungguh-sungguh bisa tumbuh menjadi besar dan membawa manfaat untuk banyak orang.
Dewi Basri bermimpi agar Basri Batik bisa menjadi sentra batik Maluku Utara, sekaligus membawa nama Maluku Utara ke kancah nasional dan internasional. Ia ingin mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif daerah, serta mengajak generasi muda untuk berkolaborasi dalam mengembangkan batik lokal. Dengan semangat dan kerja keras, Dewi percaya bahwa batik Maluku Utara akan semakin dikenal dan menjadi kebanggaan bersama.
Kisah sukses Dewi Basri dan Basri Batik di Maluku Utara adalah contoh nyata bagaimana keuletan dan kreativitas dapat membawa perubahan positif. Melalui pemberdayaan masyarakat dan pelestarian budaya, Dewi Basri tidak hanya membangun usaha batik, tetapi juga ikut membangun masa depan Maluku Utara yang lebih cerah. Semoga kisah ini menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk berani bermimpi dan mewujudkannya.